KAN SEKARANGPUN SUDAH BISA

Table of Contents

KAN SEKARANGPUN SUDAH BISA

KAN SEKARANGPUN SUDAH BISA

Di sebuah kampung nelayan, pada suatu pagi, seorang profesor bisnis yang
sedang berlibur bertemu dengan seorang nelayan yang tengah membereskan
hasil tangkapannya. Sang profesor tidak tahan untuk tidak menyapanya,
“Hai, kenapa kamu selesai bekerja sepagi ini?” “Saya sudah menangkap
cukup banyak ikan Pak,” jawab nelayan itu, “cukup untuk dimakan
sekeluarga dan masih ada sisa untuk dijual.”

“Lalu, setelah ini kamu mau apa?” tanya profesor itu lagi. Jawab sang
nelayan, “Habis ini saya mau makan siang dengan istri dan anak-anak
saya, setelah itu tidur siang sebentar, lalu saya akan bermain dengan
anak-anak. Setelah makan malam, saya akan ke warung, bersenda gurau
sambil bermain gitar bersama teman-teman.”

“Dengarkan kawan,” ujar sang profesor, “jika kamu tetap melaut sampai
sore, kamu bisa mendapat dua kali lipat hasil tangkapan. Kamu bisa
menjual ikan lebih banyak, menyimpan uangnya, dan setelah sembilan bulan
kamu akan mampu membeli perahu baru yang lebih besar. Lalu, kamu akan
bisa menangkap ikan empat kali lebih banyak. Coba pikir, berapa banyak
uang yang bakal kamu dapat!”

Lanjut profesor, “Dalam satu dua tahun kamu akan bisa membeli satu kapal
lagi, dan kamu bisa menggaji banyak orang. Jika kamu mengikuti konsep
bisnis ini, dalam lima tahun kamu akan menjadi juragan armada nelayan
yang besar. Coba bayangkan!”

“Kalau sudah sebesar itu, sebaiknya kamu memindah kantormu ke ibu kota.
Beberapa tahun kemudian perusahaanmu bisa ‘go public’, kamu bisa jadi
investor mayoritas. Dijamin, kamu akan jadi jutawan besar! Percayalah!
Aku ini guru besar di sekolah bisnis terkenal, aku ini ahlinya hal-hal
beginian!”

Dengan takjub, nelayan itu mendengarkan penuturan profesor yang penuh
semangat itu. Ketika profesor selesai menjelaskan, sang nelayan
bertanya, “Tapi Pak Profesor, apa yang bisa saya perbuat dengan uang
sebanyak itu?”

Ups! Anehnya sang profesor belum memikirkan konsep bisnisnya sejauh itu.
Cepat-cepat dia mereka-reka apa yang seseorang bisa lakukan dengan uang
sebanyak itu.

“Kawan! Kalau kamu jadi jutawan, kamu bisa pensiun. Ya! Pensiun dini
seumur hidup! Kamu bisa membeli villa mungil di desa pantai yang indah
seperti ini, dan membeli sebuah perahu untuk berwisata laut pada pagi
hari. Kamu bisa makan bersama keluargamu setiap hari, bersantai-santai
tanpa khawatir apa pun. Kamu punya banyak waktu bersama anak-anakmu, dan
setelah makan malam kamu bisa main gitar dengan teman-temanmu di warung.
Yeaaa, dengan uang sebanyak itu, kamu bisa pensiun dan hidupmu jadi
mudah!

“Tapi, Pak Profesor, kan sekarangpun ini saya sudah bisa begitu…,” lirih
sang nelayan dengan lugunya.

Kerbat Imelda,
Kenapa kita percaya bahwa kita harus bekerja begitu keras dan menjadi
kaya raya terlebih dahulu, baru kita bisa merasa berkecukupan? Apakah
ada “tujuan yang lebih mulia” dari apa yang Anda lakoni saat ini?
Apakah itu benar tujuan mulia atau sekadar dalih rasa takut untuk
menjadi apa adanya? Untuk merasa berkecukupan, apa sekarang ini tidak
bisa?

Sumber : https://icanhasmotivation.com/